MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET

MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET BERSAMA IRWIN ANANTA

Larangan Menyingkat Salam

Fatwa Syaikh Wasiyullah Abbas (Ulama Masjidil Haram, pengajar di Ummul Qura)

Soal:

Banyak orang yang menulis salam dengan menyingkatnya, seperti dalam Bahasa Arab mereka menyingkatnya dengan wrwb Dalam bahasa Inggris mereka menyingkatnya dengan “ws wr wb” (dan dalam bahasa Indonesia sering dengan “ass wr wb” – pent). Apa hukum masalah ini?

Jawab:

Tidak boleh untuk menyingkat salam secara umum dalam tulisan, sebagaimana tidak boleh pula meningkat shalawat dan salam atas Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh pula menyingkat yang selain ini dalam pembicaraan.

Diterjemahkan dari www.bakkah.net
Fatwa Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)

Soal: Bolehkah menulis huruf ? yang maksudnya shalawat (ucapan shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan apa alasannya?

Jawab:

Yang disunnahkan adalah menulisnya secara lengkap –shallallahu ‘alaihi wasallam- karena ini merupakan doa. Doa adalah bentuk ibadah, begitu juga mengucapkan kalimat shalawat ini.

Penyingkatan terhadap shalawat dengan menggunakan huruf shad atau saw (seperti SAW, penyingkatan dalam Bahasa Indonesia -pent) tidaklah termasuk doa dan bukanlah ibadah, baik ini diucapkan maupun ditulis.

Dan juga karena penyingkatan yang demikian tidaklah pernah dilakukan oleh tiga generasi awal Islam yang keutamaannya dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau.

Dewan Tetap untuk Penelitian Islam dan Fatwa

Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullaah Ibn Baaz;
Anggota: Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Ghudayyaan;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Qu’ood

(Fataawa al-Lajnah ad-Daa.imah lil-Buhooth al-’Ilmiyyah wal-Iftaa., – Volume 12, Halaman 208, Pertanyaan ke-3 dariFatwa No.5069)

Diterjemahkan dari http://fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/enjoiningthegood/0020919.htm
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Apa keutamaan bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Bolehkah kita menyingkat ucapan shalawat tersebut dalam penulisan, misalnya kita tulis Muhammad SAW atau dengan tulisan Arabslm , singkatan dari salallahualaihiwassalam ?

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjawab:

“Mengucapkan shalawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang disyariatkan. Di dalamnya terdapat faedah yang banyak. Di antaranya menjalankan perintah Allah , menyepakati Allah Subhanallahu Wa ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

Faedah lainnya adalah melipatgandakan pahala orang yang bershalawat tersebut, adanya harapan doanya terkabul, dan bershalawat merupakan sebab diperolehnya berkah dan langgengnya kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sebagaimana bershalawat menjadi sebab seorang hamba beroleh hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak seseorang bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengingat beliu, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di dalam hati. Sehingga tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap apa yang beliau sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan anjuran untuk mengucapkan shalawat atas beliau dalam beberapa hadits. Di antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang bershalawat untukku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”

Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu juga, disebutkan bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan (Dengan tidak dikerjakan shalat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur’an tidak dibaca di dalamnya. (-pent.)) dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai id (tempat kumpul-kumpul -pent). Bershalawatlah untukku karena shalawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”
[Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pula bersabda:

“Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut disisinya namun ia tidak mau bershalawat untukku.”
[HR. At-Tirmidzi, kata Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, “Hadits hasan gharib.”]

Bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disyariatkan dalam tasyahhud shalat, dalam khutbah, saat berdoa serta beristighfar. Demikian pula setelah adzan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.

Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab, karya tulis, risalah, makalah, atau yang semisalnya berdasarkan dalil yang telah lewat. Ucapan shalawat ini disyariatkan untuk ditulis secara lengkap/sempurna dalam rangka menjalankan perintah Allah Aza Wajallah kepada kita dan agar pembaca mengingat untuk bershalawat ketika melewati tulisan shalawat tersebut. Tidak sepantasnya lafazh shalawat tersebut ditulis dengan singkatan misalnya shad atau slm ataupun singkatan-singkatan yang serupa dengannya, yang terkadang digunakan oleh sebagian penulis dan penyusun. Hal ini jelas menyelisihi perintah Allah Aza Wajallah dalam firman-Nya:

“… bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”

Dan juga dengan menyingkat tulisan shalawat tidak akan sempurna maksudnya serta tidak diperoleh keutamaan sebagaimana bila menuliskannya secara sempurna. Terkadang pembaca tidak perhatian dengan singkatan tersebut atau tidak paham maksudnya.

Menyingkat lafazh shalawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.
Ibnu Shalah

Ibnu Shalah dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits yang lebih dikenal dengan Muqqadimah Ibnish Shalah mengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya secara lengkap ketika berulang menyebut Rasulullah.”

Ibnu Shalah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut:

Pertama, ia menuliskan lafazh shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.

Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak menuliskan wassalam
Al-‘Allamah As-Sakhawi

Al-‘Allamah As-Sakhawi dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan, “Jauhilah wahai penulis, menuliskan shalawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Arab) secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafazh shalawat dengan sm , shad atau [Dalam bahasa kita sering disingkat dengan SAW. (-pent.) ]slm . Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.
As-Suyuthi

As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, “Dibenci menyingkat tulisan shalawat di sini dan di setiap tempat yang syariatkan padanya shalawat, sebagaimana disebutkan dalam Syarah Muslim dan selainnya, berdalil dengan firman Allah : assuyuthi

As-Suyuthi juga mengatakan, “Dibenci menyingkat shalawat dan salam dalam penulisan, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan slm , bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”

Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar mereka mencari yang utama/afdhal, mencari yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya.”

(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 2/396-399)

Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428 H/2007, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, Hal. 89-91.

19 Juli, 2010 Posted by | Larangan Menyingkat Salam | 2 Komentar

Kumpulan Kata-kata Penuh Makna

kata-kata itu bs me-nyambar2 hati bgaikan hlilintar mnymbar di sdut2 bumi, kata2 itu mmpu memindah & mngubah nuansa rasa dri bingkai letaknya semula! dg sbab kata2 orang bs jd sling mnyuka, mmbnci, brkorban ataupun mncinta.. sungguh benarlah ptuah ulama ttg kata2 yg ptut diingat agar jiwa ttp waspada, bhwa diantara kata2 itu bnar2 tdp sihir yg nyata.

Tidaklah kekwatiranku atas rasa benci yang muncul dari jiwa yg terbimbing.. namun yg menggelisahkan ku ialah rasa cinta yg muncul dari hati yang sedang lalai… (Irwin Ananta)

Tidak semua orang bisa menjadi yang TERHEBAT namun semua orang masih memiliki kesempatan untuk menjadi yang TERLATIH.(Irwin Ananta)

Bisa kah hati terluka dengan sebab kata-kata ?, padahal kata-kata bukanlah pisau belati atau badik yang mengandung bisa, reaksi dirilah yang telah membuat hati merasa tuk terluka. Sesungguhnya Kata-kata tidaklah bisa melukai hati, diri sendirilah yang telah mengijinkan hati untuk merasa terluka dengan sebab kata-kata, kuat kan diri utk tidak mudah merasa terluka, karena tidak satupun orang hebat didunia ini melainkan pernah merasakan celaan dari kata-kata dan juga pernah merasa terluka..(Irwin Ananta)

Adakalanya suatu pertanyaan itu memang lebih patut untuk di diamkan tanpa perlu untuk di jawab denga kata-kata dan biarkanlah saja waktu yg akan menjwabnya sendiri beserta bukti-bukti nya..(Irwin Ananta)

Hari ini belajar untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin sambil juga merencanakan agar hari esok bisa menjadi lebih baik dari hari ini..(Irwin Ananta)

Janganlah silau dengan tingginya kedudukan, gelar maupun berbagai atribut drajat sosial seseorang, bukanlah jaminan kemulian dan kredibilitas seseorang jikalau perkataan dan pengamalannya bertentangan dengan kebenaran itu sendiri… ,karena PEDANG ITU TIDAK MEMUJI SETIAP ORANG YANG MEMBAWANYA
(Irwin Ananta)

Bila sulit untuk menjadi yang TERBAIK dalam mendapatkan HASIL maka setidaknya menjadilah yang TERLATIH dalam proses PENCAPAIAN nya (Irwin Ananta)

Orang-orang yang baik jauh lebih sedikit dari orang-orang yang berbuat kerusakan, orang yang cerdas dan berilmu jauh lebih sedikit dari orang-orang yg bodoh, orang yg takwa jauh lebih sedikit dari orang-orang yang durhaka, lantas mngapa kah diantara kita masih ada saja yang mengukur kebenaran & kebaikan itu dengan banyak nya pengikut dan banyak nya suara.., jelas ini adalah benar-benar kejahilan yag nyata..! (Irwin Ananta)

Dalam susunan konstelasi bintang-bintang dan benda-benda angkasa, senantiasa posisi nampak bergerak dan berubah serta tak satupun tetap diam dan pasrah berada di tempat semula! sekiranya benar ada benda angkasa yg diam dan tidak bergerak maka pastilah akan tergilas oleh gerakan perubahan rotasi & revolusi pada orbit benda angkasa lainnya, maka demikianlah hdup kita, kita pun harus bergerak dan berubah agar tidak tergilas oleh pergerakan dan perubahan dari yang lainnya (Irwin Ananta)

Lidah memang tidak brtulang, darinya bs keluar amalan yangg berat dalam timbngan namun ringan dalam pngucapan, namun dalam banyak hal yang keluar darinya justru lebih banyak amalan salah nya ktimbang amalan sholeh nya, smoga kita bisa terjaga dari dosa nya lisan, karena lidah memang tidak bertulang…(Irwin Ananta)

Bermain api itu panas, bermain air itu basah maka ambilah manfaat kduanya sesuai kbutuhan dan jgn lah berlebihan (Irwin Ananta)

Berkumpul dengan orag-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular kebaikannya. Berkumpul dengan orang-orang buruk atau hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.
(Irwin Ananta)

Kata2 yg tlah trucap itu bgaikan anak panah yg mlesat, mlejit terlpas dri busurnya, ia tak bs kmbali lgi pbila bnar2 tlah lpas mluncur, ubahan khendak hati pun tak mampu mnghentikan kndalinya, kmudian kan trus lari mngejar,mnghujam & menembus pd ssuatu yg ditakdirkan akan dikenainya. Slah mlepas busur panah akan menya…kiti badan sdangkan slah berucap dpt mlukai hati, maka tahanlah lisan dri hal2 yg tak perlu terucap.(Irwin Ananta)

Subhanallah, Nasehat itu tdk hy muncul dri orang yg kita tanya, namun adakalanya muncul dari orang yg bertanya kpd kita kemudian kita tringat dan mnjwabnya dgn ilmu maka jadilah itu sbg nasehat pula buat kita!
(Irwin Ananta)

Pembelajar sejati tak akan pernah berhenti menuntut ilmu sampai mati…!(Irwin Ananta)

Sehat itu murah yg mahal itu kalo sakit, Mencegah lebih baik dari pada mengobati, Membiasakan minum manisnya madu harus lebih didahulukan sblm menjadi harus terpaksa minum pahitnya obat.., Sudahkah Anda Minum madu hari ini….(Irwin Ananta)

Ilmu &hapalan bs hilang krn mksiat, orang yg berilmu bs mrasakannya dgn lnyapnya ilmu & hapalannya tsb, sdang orang yg tak brilmu tdklah merasa khilangan apa2 krn memang tdk ada apa2 nya, lntas apalagi yg bs hilang.(Irwin Ananta)

Lengkapilah hidup ini dengan sabar dan syukur..!, dua kata yg ringan di ucapkan namun butuh bukti nyata untuk direalisasikan.(Irwin Ananta)

Pada penguasa tdp naungan dari kekacauan (Chaos) dan pada penguasa pula tdp kekuatan yg bisa menimbulkan (fitnah) pertumpahan darah, Maka Muslim yg baik akan menahan diri dari mencaci maki mereka (para penguasa)..!(Irwin Ananta)

Seorang Salafy adakalanya di uji dengan suatu fitnah (cobaan)..”ambil ilmu kah ato syubhat, ambil ilmu kah ato syubhat…”, Yg lulus uji akan mengambil ilmu dgn rujukan kitab2 ulama dihadapannya sdang yg kalah dan gagal akan mengambil syubhat2 serta membuang ilmu dari kitab2 nya para ulama.., smga kita slamat dari syubahat2 dan fitnah (cobaan) di akhir zaman ini…!(Irwin Ananta)

di dunia ini ada syetan bicara dan syetan bisu…, syetan bicara lah yang membuat seseorang bicara (kebatilan) padahal seharusnya lbih baik diam pada saat itu, dan syetan bisu ialah syetan yang membuat seseorang diam atau bisu (terhadap yang haq) padahal seharusnya lebih baik dia berbi…cara pada saat itu, tdk selamanya diam itu emas, adakalanya kita mesti berbicara jika itu adl Al Haq..(Irwin Ananta)

Berkahnya umur diatas kbaikan lbh memiliki makna ktimbang umur yg panjang, namun byk skali orang memohon umur panjang saja tanpa muatan kberkahan didalamnya pdhal umur yg pnjang blm serta merta mndatangkan kbaikan tanpa kberkahan dan hidayah bsertanya! Maka brhntilah memohon jika hanya utk skedar mminta umur panjang sj…(Irwin Ananta)

Kebohongan besar pertama ada manusia yang pernah mendarat di bulan bernama “Neil Armstrong”, kebohongan kedua diberitakan “Neil Armstrong telah mendarat di bulan dengan slamet” dan kebohongan ketiga dikatakan orang bahwa “slamet adalah orang jawa pertama yang sampe ke bulan”.(Irwin Ananta)

Selama hidup di dunia kesulitan dan kemudahan silih berganti,Masa perang masa damai juga silih berganti, dmikian kalah dan menang pun silih berganti, bgaikan silih bergantinya siang dan malam,mnghdapinya adakalanya dgn sabar dan adakalanya dgn syukurpun silih berganti.(Irwin Ananta)

SeNyuM yg IkhLas itu SnyuM yg Mngandung iBaDaH, SeNyuM Yg MnimBulkan fiTnah itu seNYum yg MngaNduNg KgeniTañ, SeNyum yg Aneh itu SeNYum 2 Sndirian, Nah loo. (Irwin Ananta)

Lengkapilah hidup ini dengan sabar dan syukur..!, dua kata yg ringan di ucapkan namun butuh bukti nyata untuk direalisasikan.(Irwin Ananta)

Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah dengan ikhlas, bisa jadi beberapa saat kemudian ikhlas tersebut berganti dengan riya’. Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak. Hari ini ikhlas, mungkin esok tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita diteguhkan dalam agama ini.(Irwin Ananta)

Menjadi muslim adl hidayah, namun memahami sunnah,serta mengamalkan dan tuk istikomah diatasnnya itu pun butuh pd hidayah tertentu yg lbih rinci lagi, senantiasa dlm sholat kita memohon agar ditunjukan jln yg lurus (hidayah), setiap saat seorang muslim senantiasa mbutuhkan hidayah Alloh maka rajin2 lah dlm memohonnya..!(Irwin Ananta)

Tidak sempurna mengerjakan kebaikan bukan berarti harus meninggalkan semua kebaikan, tidak sempurna meninggalkan keburukan bukan berarti tidak ada keburukan yang sudah dapat ditinggalkan dengan sempurna!
Belajar dan berbagi ilmu lagi tuk menjadi pembelajar sejati, Mudah-mudahan di sibukan Alloh hanya pada Ilmu yg bermanfaat saja, syarat ilmu itu bisa dikatakan bermanfaat ada dua yakni pertama ada manfaatnya kedua tidak ada larangan baik dalam mempelajari.(Irwin Ananta)

Adakalanya seseorang itu suka berada ditengah keramaian namun adakalanya pula seseorang itu pun butuh menyepi dalam kesendirian dan khusyu untuk berkhalwat dengan TUHAN NYA.(Irwin Ananta)

Kalau kita tidak bisa mengubah suatu keadaan, maka rubahlah cara pandang kita terhadap keadaan tersebut..!(Irwin Ananta)

Kita tidak akan dapat mengendalikan perbuatan orang lain tapi kita bisa mengandalikan reaksi mental kita terhadap perbuatan mereka itu dan itulah yang terpenting bagi kita.(Irwin Ananta)

Hidup itu adalah pilihan dan setiap pilihan ada konsekwensi resikonya masing-masing..!, maksimal resiko hidup di dunia ini ialah mati, kalo udah siapkan tuk mati maka harusnya gak ada lagi resiko yg mesti ditakuti..!
(Irwin Ananta)

Pemilu Fitnah (Cobaan) Kekuasaan, orang yang duduk (menghindar dari fitnah itu) lebih baik daripada yang berdiri dan orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan dan orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari (menghampiri terlibat dalam perkara tsb). (Irwin Ananta)

Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan.(Irwin Ananta)

Mengajar sambil belajar dan Belajar lagi buat Mengajar, Barang siapa yang tak memiliki apa-apa maka tak bisa memberi apa-apa..!(Irwin Ananta)

Lakukan hal-hal yang ringan dan sederhana..yang penting mulai dari sekarang…!(Irwin Ananta)

Diam tidak pasti, bergerak juga tidak pasti kalau begitu mendingan kita bergerak sambil berharap dari yg Maha Pemberi kepastian..!(Irwin Ananta)

17 Juli, 2010 Posted by | Kumpulan Kata-kata Penuh Makna | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.