MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET

MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET BERSAMA IRWIN ANANTA

CIA dan Konspirasi BomBali..!?

Tidak singkronnya antara pengakuan Amrozi CS mengenai bahan peledak yang digunakan yakni bahan kimia rakitan dengan hasil dan efek ledakan dahsyat yang ditimbulkan tersebut masih menimbulkan teka-teki dan misteri soal ada tidak nya pihak lain yang terlibat dalam pengeboman bom bali tersebut. Bahkan selama proses penyelidikan Untuk sekian kalinya jenis bom yang diumumkan oleh pihak penyelidik Polri berubah-ubah. Mulanya disebut C4 kemudian diokoreksi menjadi RDX dan TNT. akhirnya ehemm…ternyata hanya bom rakitan dengan bahan potasium klorat dan amonium sulfat atau bahasa kasarnya ternyata hanya bom kelas karbitan lah..!.

Joe Vialls. Mantan pakar demolisi dari kesatuan elit tentara Inggris SAS, yang kemudian desersi dan menetap di Australia sebagai pengamat masalah-masalah intelijen meyakini bom yang meledak di Sari Club adalah mikro nuklir, karena ada efek cendawannya Efek cendawan merupakan satu-satunya efek yang bisa dibuat oleh bom nuklir. Dan bom yang meledak di Sari Club, Kuta-Bali memang mikronuklir,””Menduga bom Bali sebagai bom rakitan dan potasium klorat merupakan analisa idiot murni. Amat bodoh dan hanya mungkin dilakukan karena ada tekanan dari luar” ujar Joe Vialls.

Kesaksian seorang kapten angkatan bersenjata Australia yang tengah berlibur di Kuta dan selamat dari ledakan di Sari Club juga patut mendapat perhatian. Menurutnya, beberapa detik sebelum bom meledakkan Sari Club, aliran listrik padam di sekitarnya, seolah ada gelombang elektomagnetik atau gelombang radiasi yang menyebabkan listrik padam temuan ini memperkuat analisanya tentang mikro nuklir.

Profesor Achmad Tabktir, Kepala Laboratorium Proses, Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Surabaya. Menurut Achmad Tabktir, data belanjaan Amrozi dari Toko Tidar Kimia memang bisa digunakan untuk membuat bom dengan efek ledakan lumayan. Tapi, pasti bukan bom Bali. “Kemungkinannya sangat kecil bom Bali terbuat dari bahan-bahan itu. Soalnya, ledakannya pasti tak akan sedahsyat ledakan bom Bali,”.

Petinggi TNI saat itu Ryamizard ryakudu termasuk orang yang meragukannya kemudian untuk membuktikan kecurigaan ini, TNI sengaja mempertontonkan kemampuan daya ledak TNT pada sebuah gedung kepada pers, TNT merupakan bahan bom standar yang biasa militer pakai. Hasilnya, terbukti ledakan bom berbahan TNT murni saja tak bisa menghasilkan efek ledakan sedahsyat ledakan bom Legian. perlu diketahui bahan peledak TNT merupakan bom standar militer yang jauh lebih canggih daya ledaknya ketimbang ledakan bom dari bahan kimia rakitan yang diakui Amrozi sebagai bom pemicu ledakan di bali. Tapi nyatanya ledakan yang terjadi di bali tersebut jauh lebih dahsyat ketimbang TNT bahkan menurut Joe Vialls, beliau mengatakan ledakan yang terjadi di Legian, Bali lebih hebat dari sekedar C4. Bom berbahan C4 memiliki dayaledak lebih hebat ketimbang TNT, dikenal pula sebagai bom plastic, mudah dibawa-bawa dan aman karena tidak sensitive terhadap guncangan serta mampu lolos dari proses screening nya pada metal detector, sehingga untuk menyeludupkannya masuk kedalam lokasi target pemboman juga bukan hal yang sulit (dalam artian dengan bentuk yang kecil saja semisal seukuran batu bata pun mampu meledakan gedung yang besar berkeping-keping, sedang resiko meledak dalam proses pemindahannya juga kecil, tentu saja pengguna bom c4 harus memiliki akses dengan militer yang terorganisir atas dasar komando resmi karena prosedur dan pengawasan untuk keluarnya bom ini dari gudang militer juga sangat ketat ), sedang untuk meledakannya tentu saja mudah bagi pihak kelompok “X” ini karena tidak memerlukan sukarelawan pelaku pembom bunuh diri, karena bahan peledak C4 lazimnya diledakan memang dengan alat picu memakai ledakan bahan peledak lain, sehingga untuk kasus ledakan seperti bom bali yang paling menentukan hanyalah informasi mengenai keakuratan momentum yang benar agar bahan peledak C4 tersebut bisa bersama-sama meledak beserta bahan peledak pemicunya, sehingga untuk amannya menurut analisa saya memang bahan peledak C4 itu sudah ada disiapkan terlebih dahulu dilokasi target sedang pemicu ledaknya ialah bomnya Amrozi CS.

Bahan peledak C4 dimiliki pula oleh TNI, namun TNI belum mampu membuatnya bahan peledak tersebut masih import dan hanya diproduksi dari Negara-negara tertentu saja seperti Amerika / Israel, Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia., prosedur penggunannnya pun sangat ketat, dan TNI maupun kemungkinan oknum TNI tidak memiliki alibi kuat untuk berkonspirasi berbuat seperti itu. Sedang analisa lain yang mengatakan bisa saja Amrozi CS membawa sisa bahan peledak C4 hasil rampasan pada perang Afganistan, analisa ini sangat lemah karena sampai trio bomber tersebut di eksekusi tidak ada pengakuan sedikitpun dari mereka soal penggunann bahan peledak C4 yang diduga menjadi pemicu ledakan dahsyat bom legian tersebut padahal selama ini mereka sudah begitu lama di introgasi dan begitu banyak informasi yang didapat penyelidik Polri. Bahkan dengan kepolosannya mereka membanggakan hasil ledakan bom rakitan kimia yang mereka buat walaupun efek ledakan tersebut menimbulkan Kontroversial dikalangan ahli bom / bahan peledak

persis kejadiannya dengan seseorang yang mengakui telah membunuh dengan pisau namun anda melihat jasad korbannya tidak saja terkena tusukan pisau tapi terdapat lubang tembakan, bagaimana aneh bukan???

Lantas apa hubungannya dengan CIA, Perlu diketahui beberapa waktu sebelum terjadinya ledakan, konon sebuah kapal perang AS memang tengah melabuh jangkar di pelabuhan Genoa Bali dan anehnya bisa melakukan sweeping sekeliling kapal dalam radius ratusan meter, agar siapa pun tidak mendekat. Alibi adanya keterlibatan agen rahasia amerika CIA lumayan besar, karena memang AS punya kepentingan dengan Indonesia dan Negara lain dengan perang global terhadap apa yang dianggapnya sebagai terorisme dunia dan semua ini memang sudah diagendakan oleh pihak Pentagon dengan disusunnya agenda kontraterorisme yang disebut rencana aksi superintelijen. .Untuk mendukung keperluan itu, Menhan AS Donald Rumsfeld telah membentuk empat tim khusus intelijen. Tim-tim ini mendapat hak istimewa dan dipimpin oleh pejabat teras seperti Deputi Menhan Paul D Wolfowitz, Richard Perle (menhan era Presiden Ronald Reagen yang kini menjadi penasihat militer Presiden George W Bush dan ketua Badan Kebijakan Pertahanan (DPB)), dan Douglas J Feith (asisten Richard Perle). sebagaimana berita ini dilansir oleh New York Times (24/10).

Sebagaimana diketahui bersama bahwa setiap gerak pertahanan dan keamanan Amerika dilapangan di implementasikan oleh militer AS dan agen rahasinyanya CIA, sedang Mossad ialah agen rahasia Israel sekutu kentalnya Amerika serikat. Saking kentalnya persekutuan mereka konon pernah terjadi adanya aksi penyadapan oleh Mossad terhadap petinggi AS digedung putih dan AS hanya melakukan protes saja tanpa timbul kerusakan hubungan diantara keduanya.

Lantas mungkinkah bagi agen rahasia Amerika dalam hai ini CIA dan Mossad melakukan skandal konspirasi yang tega mengorbankan orang-orang tak berdosa dalam agenda kegiatan intelijennya seperti kemungkinan dugaan sebagian orang atas keterlibatan mereka pada bom bali 1. Berdasarkan pada teori kemungkinan atas track record sepak terjang operasi intelijen CIA, Jangankan mengorbankan rakyat sipil diluar AS, warganya sendiri bahkan yang namanya operasi intelijen Amerika itu pun konon pernah mengorbankan anggota militernya dalam serangan jepang ke pangkalan AS di Pearl Harbour yang sebenarnya sudah diketahui oleh pihak intelijen AS dan bahkan presidennya saat itu, namun tetap dibiarkan saja serangan itu terjadi untuk menimbulkan kemarahan masyarakat Eropa dan Amerika kemudian menjadi alat pacu legitimasi serangan balasan bagi AS untuk menggunakan serangan bom nuklir pertama (Atom) ke Hiroshima dan Nagasaki untuk mempercepat mengakhiri perang dunia ke dua yang telah banyak memakan biaya dan banyak korban jiwa bagi AS. Berikut ini hasil berita dan liputan yang diambil oleh media barat (Eropa dan Amerika) sendiri mengenai sepak terjang dan pengalaman panjang konspirasi pembusukan oleh intelijen AS .

CIA dan Berbagai Skandal Konspirasinya yang sempat terekspose media pers.

Los Angeles Times (27/10), menurunkan analisis militer William Arkin. Dia berpendapat aksi ultraintelijen itu sebagai pengulangan atau perluasan dari program rahasia militer yang pernah digelar Presiden Nixon. Aktivitas itu memungkinkan CIA bersama kekuatan militer Amerika melakukan aksi rahasia, perang informasi, operasi intelijen, serta tipu muslihat (cover and deception). ”Operasi itu bisa lebih dahsyat dari sekadar PsyOp (psycological operation -red) yang diluncurkan pasca 11 September.” Melalui Defense Science Board (DSB), Rumsfeld merancang organisasi Proactive, Preemptive Operations Group (P2OG) yang berwenang menjalankan misi rahasia untuk memicu reaksi dari kelompok-kelompok teroris, mendorong mereka melakukan aksi kejahatan yang kemudian diekspose besar-besaran oleh media massa. Untuk kepentingan ini, Pentagon telah merekrut sedikitnya 60 wartawan dan fotografer dari berbagai negara serta lebih dari 30 kantor berita asing. ”Ini upaya paling ambisius sejak perang Vietnam,” ucap sumber Pentagon kepada Los Angeles Times (15/11). Dengan cara ini, tentara AS kelak akan dibenarkan bila melancarkan serangan balik atas nama antiterorisme. Dengan kata lain, kata Floyd, pemerintah AS berencana menggunakan operasi militer yang diam-diam dan berbau tipu muslihat yang memprovokasi serangan teror terhadap orang dan kepentingan Amerika. Dengan dalih program P2OG, Donald Rumsfeld, Dick Cheney, George W Bush dan petinggi lainnya berhak membiarkan terbunuhnya orang-orang tak besalah. Demi mewujudkan ambisi geopolitik, hak-hak sipil seakan-akan boleh diabaikan oleh negara adidaya itu. P2OG memungkinkan Pentagon kembali menggelar perang kotor (fight dirty). Efek P2OP akan lebih besar dari operasi hitam dan aksi rahasia pada Perang Vietnam pada 1970-an, kata David Isenberg dalam Asia Times (5/11). ”Dengan memakai aset-aset Dephan, CIA bisa melakukan eksekusi di luar proseshukum,” tambah William Schneider Jr yang juga pimpinan DSB,. Rencana provokasi ala Rumsfeld-Bush bisa memicu pembunuhan dan terorisme baru. Bahkan, Floyd menilai program P2OP itu sebagai reinkarnasi dari Operasi Northwood. Dia khawatir, jika agenda itu akan menghidupkan kembali aksi-aksi rekayasa seperti serangan Pearl Harbor dan Lavon Affair. Bila ini terjadi, maka korban black propaganda akan bertambah panjang. William Blum, dalam buku Killing Hope: US Military and CIA Interventions Since World War II, menulis berbagai operasi intelijen Amerika telah mengorbankan sejumlah bangsa. Antara lain Cuba, Haiti, Republik Dominika, Nicaragua, El Salvador, Honduras, Guatemala, Panama, Mexico, Chile, Granada, Colombia, Bolivia, Venezuela, Uruguay, Paraguay, Ecuador, Zaire, Namibia, Lebanon, Mesir,Yunani, Siprus, Bangladesh, Iran, Afrika Selatan, Filipina, Korea, Vietnam, Laos, Iraq, Cambodia, Libya, Israel, Palestina, China, Afghanistan, Sudan, Indonesia, East Timor, Turki, Angola dan Somalia. Sejarah mencatat, serangan Pearl Harbor telah menyudutkan Jepang pada posisi pihak tertuduh. Aksi teror ini kemudian memicu pemboman Nagasaki dan Hiroshima, serta kemudian mengobarkan api Perang Dunia Kedua. Sejatinya, sebagaimana terungkap dalam dokumen intelijen, kala itu, Presiden Roosevelt telah mengetahui (setidaknya diberitahu) soal adanya rencana serangan itu. Dia membiarkan, bahkan ikut merekayasa, sehingga peristiwa itu membangkitkan emosi dan kemarahan waga AS dan sekutunya. Chris Floyd, kolomnis Moscow Times (1/11), dalam artikel berjudul Into the Dark: the Pentagon Plan to Provoke Terrorist Attacks menilai ucapan Menhan Rumsfeld sebagai fakta tak terbantahkan adanya upaya provokasi dari Pentagon. ”Serangan itu akan terjadi karena memang dikehendaki atau sengaja diciptakan Amerika untuk membenarkan langkah-langkahnya dalam melancarkan perang antiterorisme.”

Sementara itu, Lavon Affair adalah operasi intelijen Mossad. Ini berawal dari operasi diam-diam Menhan Pinhas Lavon pada 1954 dan 1956. Tahun 1956, agen Mossad diam-diam meledakkan Kedubes AS dan fasilitas militer asing di Cairo. Tetapi, yang tertuduh sebagai pelaku adalah orang Arab. Maka, bercamuklah perang Israel-AS-Inggris melawan negara-negara Arab. Hasilnya, perluasan wilayah negara Israel. Kisah ini pernah diungkap Times of London.
Menurut Victor Ostrovski, mantan agen Mossad, AS-Israel juga terlibat dalam merekayasa pemboman terhadap fasilitas AS di Timur Tengah yang kemudian memunculkan tuduhan kepada Libya. Pemimpin Libya Muammar Kadhafi, hingga kini, pun dituding sebagai pelindung terorisme. Langkah serupa terjadi 1967. Di tengah ketegangan Arab-Israel, 8 Juni 1967, Israel tiba-tiba menyerang kapal induk USS Liberty. Akibatnya 34 perwira muda tewas, 171 orang terluka dan menenggelamkan 821 roket dan senjata mesin AS. Apa terjadi kemudian? AS marah besar. Negara-negara Arab kembali diserang. Israel pun menang dan bertambahlah luas negara zionis itu. Rahasia ini diungkap oleh James M Ennes dalam buku Assault on the Liberty,

Operasi Northwood secara lengkap diungkap oleh James Bamford dan Peter Jennings dalam buku Body of Secret. Wartawan televisi ABC ini menyusun buku berdasarkan wawancara dan keterangan dari sekitar 600 narasumber. Aktor kuncinya adalah Presiden John F Kennedy (JFK), Menhan Robert McNamara, Kastaf Gabungan Laksamana Lyman Lemnitzer, serta pentolan CIA. Buku itu intinya berkisah bahwa pada 1962, elite pemerintah AS berniat menginvasi Kuba, lewat serangan Teluk Babi. JFK, tulis Bamford, berpendapat operasi militer bisa menimbulkan masalah dan bukan hal yang gampang. Tetapi, Lemnitzer, CIA dan pejabat lain telah terobsesi untuk mengusai Kuba yang komunis. Tatkala saudara-saudara Kennedy melunak, Lemnitzer dkk justru melihat ada kesempatan besar untuk segera menyerang Kuba. Dia menyusun skenario dan rekayasa untuk melakukan trik dan intrik mempengaruhi opini publik di AS dan dunia pada umumnya. Singkatnya muncullah operasi Northwoods. ”Kita dapat meledakkan kapal selam AS di Teluk Guantanamo Bay dan menghajar Kuba sekaligus dengan mengarahkan media massa untuk melecut harga diri bangsa,” kata Kastaf Miiliter Gabungan AS. ”Kapal diledakkan demikian rupa hingga seolah-olah itu dilakukan oleh teroris Kuba.” Pada saat yang sama, kata Lemnitzer, ”kita dapat mengembangkan kampanye teror ala komunis Kuba di wilayah Miami, kota-kota Florida bahkan di Washington.” Ada juga usulan membuat duplikasi menjadi satu drone (pesawat tak berawak) yang dikendalikan dari pesawat sipil reguler. Pesawat disiapkan untuk mengangkut penumpang kemudian dikonversi jarak jauh untuk kemudian dihancurkan dengan pemicu menggunakan sinyal radio. Begitu ledakan terjadi yang tertuduh adalah teroris Kuba. ”Selanjutnya, Kuba tinggal dibakar.” jelas Lemnitzer.

Cara lain juga sempat diusulkan. Yaitu meledakkan roket yang akan membawa astronot John Glenn mengangkasa pada 20 Februari 1962. Bukti-bukti palsu yang bisa memberi indikasi adanya sabotase dari teroris Kuba disiapkan. ”Kita buat bukti-bukti seolah adanya interferensi elektronik yang dioperasikan orang Kuba.” Sementara NASA menyiapkan astronot pertama ke angkasa luar, Kastaf Gabungan menyiapkan kematian John Glenn sebagai martir pemicu serangan ke Kuba. Karena JFK tak setuju, rencana itu urung dilakukan. Dan, AS kemudian memang gagal menginvasi Kuba. Tetapi, JFK kemudian terbunuh secara misterius.

Akibat sikap keras kepalanya presiden kuba Fidel Castro terhadap ketidakpatuhannya terhadap kehendak pemerintah AS dalam masalah nuklir konon memicu upaya pembunuhan beruntun terhadapnya oleh agen-agen barat CIA. Konon CIA telah mencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro sebanyak 638 Kali, Fidel Castro bisa jadi merupakan salah satu pemimpin yang paling diincar oleh Amerika Serikat (AS) untuk dibunuh. Badan intelijen negara Paman Sam ini, Central Intelligence Agency (CIA) tercatat ratusan kali mengupayakan pembunuhannya tapi selalu gagal. Fabian Escalante, seorang yang lama bertugas menjaga keamanan Castro, menghitung, upaya pembunuhan yang dilakukan CIA terhadap Castro sebanyak 638 kali. Dalam artikel yang dirilis Wikipedia, di antara upaya pembunuhan itu termasuk meledakkan cerutu, suatu yang paling disukai oleh Castro. Cara lainnya adalah memasukkan jamur beracun ke dalam pakaian menyelam. Dan cara yang paling “konvensional” adalah penembakan gaya mafia. Beberapa plot pembunuhan ini digambarkan dalam sebuah dokumen yang berjudul 638 Ways to Kill Castro (638 Cara untuk membunuh Castro). Salah satu dari upaya ini adalah melalui mantan pacarnya, Marita Lorenz, yang dia temui tahun 1959. Sebelumnya, dia setuju untuk membantu CIA dan berusaha menyelundupkan sebotol krim yang mengandung racun untuk dimasukkan ke dlaam ruangan Castro. Ketika Castro sadar, dia lalu menyerahkan senjata itu kepada Marita dan memintanya untuk menembak dia, namun sang pacar menjadi tidak tega. Castro pernah melontarkan kalimat guyon terkait dengan upaya pembunuhannya. “Jika selamat dari upaya pembunuhan itu merupakan cabang yang dipertandingkan di Olimpiade, makas saya pasti sudah meraih medali emas.”

Dari gambaran singkat mengenai sepak terjang CIA/Mossad dalam dunia konspirasi dan skandal berdarah menurut liputan dan berita yang sempat diekspose oleh media pers barat sendiri, memang hal-hal tersebut diatas mungkin tidak akan pernah di filmkan untuk menggambarkan CIA sebagai sosok yang antagonis, jadi jangan berharap banyak mengetahui kebenaran dari film-film Hollywod karena sebenarnya kebrutalan ulah intelijen barat tak kalah bejatnya dengan inteligen Rusia KGB, hanya AS jauh lebih pandai dalam menampilkan wajah ramah bersahaja dalam tampilan intelijen mereka sebagaimana yang sering digambarkan dalam film-film mereka sebagai sosok pahlawan dan pembawa damai, mereka lebih pandai menciptakan tampilan sosial yang disukai dan juga berhasil menguasai jaringan komunikasi dunia. tampil jauh lebih mempesona dibandingkan dengan wajah angker dan dingin intelijen Rusia terdahulu (KGB).

Maka tanyakan pada diri Anda masing-masing mungkinkah CIA/Mossad ikut terlibat dalam kasus peledakan bom di legian Bali. Tapi yang jelas pascatragedi 12 Oktober, Menhan AS Donald HRumsfeld semakin gencar menyampaikan pesan-pesan peringatan akan adanya serangan baru dari Alqaidah. Dalam hari-hari mendatang, kata dia, Amerika akan lebih banyak mendapat serangan teroris dan seolah-olah ini mengindikasikan bahwa implementasi agenda kontraterorisme yang disebut rencana aksi superintelijen dengan organisasi proactive bentukan Donald Rumsfeld yakni Preemptive Operations Group (P2OG) yang berwenang menjalankan misi rahasia untuk memicu reaksi dari kelompok-kelompok teroris, mendorong mereka melakukan aksi kejahatan yang kemudian diekspose besar-besaran oleh media massa sebagaimana dipaparkan sebelumnya memang sedang memulai permainannya. Dengan cara ini, tentara AS kelak akan dibenarkan bila melancarkan serangan balik atasnama antiterorisme.

Data diambil dari berbagai sumber

Iklan

20 November, 2008 - Posted by | CIA dan Konspirasi BomBali..!?

1 Komentar »

  1. Ini cerita dari temen yang memang rumahnya tidak jauh ledakan Sari Club dan Padis club bahwa sebelummya temenku sempat melihat kilatan api ( mirip dengan roket ) dari timur yang mengarah ke padis club sebelum ledakan terjadi.
    Sebelum terjadi ledakan memang kapal perang AS sudah bersandar di pelabuhan Benoa dan listrik padam beberapa saat sebelum terdengar suara ledakan karena waktu itu saya sendiri ship malam di jl sesetan.

    Komentar oleh robert | 5 Maret, 2013


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: