MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET

MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET BERSAMA IRWIN ANANTA

Salah Persepsi Soal Bid’ah

Apa sich bid’ah itu..!

Pertama saya sampaikan bahwa yang mengatakan setiap bidah sesat adalah rosulullah shalallah aalihi wasalam : Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Azza wa jalla, taat dan mendengar sekalipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja diantara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat persengketaan yang banyak maka (ketika itu) wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Gigitlah dengan gigi grahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara baru karena setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi) dan sangat banyak hadist-hadist larangan sejenis dengan riwayat yang berbeda.

Berarti hukumnya kita mengerjakan bidah (amalan baru) itu hukum asalnya dilarang berdasar sabda nabi shalallahu alaihi wasalam diatas! maka mengerjakan sesuatu yang hukum asalnya dilarang tidak dibolehkan meskipun dengan niat baik sesuai kaidah ushul fiqih bahwa niat baik itu tidak dapat mengubah sesuatu yang Allah haramkan menjadi halal! untuk contoh lain bisa kita bandingkan, bolehkah kita membuka tempat lokalisasi pelacuran atau rumah bordir dengan niat menolong menyediakan lapangan kerja bagi para wanita yang mengangur !, itu khan niatnya baik menolong orang yang kesusahan mencari nafkah ! Jika jawabnya boleh maka rusaklah tatanan hidup didunia ini namun jika kita jawab tidak boleh, berarti hal yang samapun berlaku pula pada hal tersebut diatas!

Jadi yang terpenting disini setelah kita mengetahui larangan tersebut adalah bersungguh-sungguh memahami makna bidah tersebut dan kemudian menjauhinya dari setiap amalan ibadah kita!

bidah secara bahasa konteknya lebih luas daripada pengertian bidah secara syari yakni perkara baru atau apa-apa yang dibuat dan diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya, yang dahulu sebelum syariat islam itu ada biasa orang-orang arab katakan pada setiap hal-hal baru yang mereka temui dan tidak ada contoh sebelumnya dengan kata bidah..bidah…! misal di abad 20 ini saat mereka (orang-orang arab) baru melihat mobil-mobil yang mulai mengantikan kedudukan unta di jalan-jalan seperti pada tahun 50 an (saat masuknya mobil2 ketimur tengah) maka mereka katakan bidah…bidah…! atau berbagai hal-hal baru dalam urusan dunia kita yakni ada sekolah-sekolah, atau bisa berangkat naik haji dengan pesawat padahal dulu hanya dengan jalan kaki atau unta saja nah itu semua adalah bidah secara arti bahasa!!

Bidah secara syariat adalah suatu perkara baru yang dibuat-buat menyerupai ibadah dengan menyelisihi Al Quran, As sunnah dan kesepakatan pendahulu umat (ijma) baik berupa perkara I tiqod (keyakinan) dan ibadah-ibadah…!

Maka tidak benar jika ada orang-orang yang tidak faham bidah kemudian mengatakan soal mobil, motor, handphone khan perkara baru semua kalo gitu bidah donk… !

Ingat Bidah hanya ada dalam I’tiqod dan Ibadah-ibadah maka perhatikan kaidah ushul fiqih bahwa hukum asal ibadah adalah haram kecuali yang diperintahkan sedangkan hukum asal muamalah (keduniawian) itu adalah mubah (halal) kecuali jika kita dapati larangan..! maka dalam akhlaq dan muamalah tidak ada bidah (kecuali jika dijadikan pada perkara Itiqod/Ibadah yang menyelisihi sunnah)

Misal dalam muamalah Islam memerintahkan perlu dipisah pergaulan laki-laki dan perempuan kemudian kita meyakini dengan dicampur saja seperti pergaulan ala orang2 barat serta kita meyakini hal itu lebih baik dan bercampur atau ikhtilat itu lah yang sesuai dengan syariat Islam, keyakinan batil dengan menisbatkan sesuatu yang bukan dari islam kemudian dinisbatkan kepada Islam maka itu menjadi bidah karena faktor keyakinan. (bid’ah Itiqodiyah)

Selain pada Itiqod bid’ah dapat terjadi pada Ibadah Mahdhoh (murni) Ciri Ibadah mahdhoh itu ialah akal tidak bisa mencernanya secara tuntas, sebagian besar manfaat bisa dirasakan di akherat kelak, secara spesifik jenis kebaikan ibadah ini khusus diamalkan oleh kaum muslimin. misalkan sholat, puasa, dzikir, zakat dst.., maka untuk jenis ibadah ini tauqifiyah (menunggu keterangan dari nash Alquran & sunnah serta pengamalan dari para sahabat nabi shallalahu alaihi wasalam, maka tidak boleh ngarang dalam hal sifat, bilangan, waktu, tempat, bentuk, caranya. Contoh bid’ah ini antara lain ialah sesorang menentukan bilangan amalan2 dzikir dengan jumlah tertentu misal 100, 200 atau 1000 kali dsbnya dengan keyakinan faedah tertentu yang tidak ada dasar petunjuk dari nabi..! maka penentuan jumlah bilangan tertentu disertai keyakinan akan mendapat manfaat ini dan itulah yang menjadi bidah.

sedang pada ibadah ghoirul mahdhoh (ibadah yang nilai kebaikannya universal / orang kafir pun bisa menangkap hikmahnya), syariat Islam telah memberikan landasannya secara umum, Misalkan Agama Islam memerintahkan kita untuk menolong orang yang mengalami kesusahahan namun secara teknisnya dilihat pada keadaan maupun zaman yang mungkin berbeda!, karena agama tidak merinci bagaimana teknisnya dalam menolong orang tersebut yang terpenting adalah yang ditolong selamat! bagaimana teknisnya hal itu diserahkan kepada kondisi / keadaan saat tersebut misal menyumbang amal.., zaman dulu cukup dengan menggerai kain untuk mengumpulkan harta sumbangan para dermawan dan sekarang mungkin kita bisa memanfaatkan fasilitas sms atau dengan transfer uang lewat bank sehingga sampai kepada pihak yang membutuhkan, jadi bagaimana teknisnya disesuaikan pada keadaan dan zaman maka ini bukan bid’ah, jadi untuk semua ibadah ghoirul mahdhoh yakni dalam hal kebaikan-kebaikan maka syariat Islam telah memberikan landasannya secara umum sedangkan untuk pendetailannya dilihat dari kontek keadaan atau kah mungkin ada perinciannya yang diatur secara tegas oleh sunnah sebagai ibadah mahdhoh.

“tidak ada satu pun kebaikan melainkan Islam telah ajarkan”, oleh sebab itu jika umat mengatakan adanya sesuatu yang dipandangnya baik pada saat ini namun tidak memiliki landasan syariat sama sekali dari ajaran islam maka pasti hakekatnya hal itu bukanlah kebaikan misal berdalam-dalam terhadap pemikiran filsafat, mengikuti aliran2 pemikiran politik, ekonomi, peradaban dari orang-orang akhir zaman ini seperti paham kapitalis, komunis, demokrasi, marxis dll yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai Islam dan kemudian dipandangnya baik maka itupun termasuk bid’ah, bagi para penuntut ilmu syar’i tidaklah tersembunyi akan kesempurnaan Islam ini dalam mengatur perincian tatanan kehidupan kita didunia (baik yang sudah dapat dilaksanakan maupun yang belum dapat dilaksanakan) namun sayang sekali hal ini masih sangat tersembunyi bagi sabagian besar kaum muslimin yang jauh dari ilmu, Islam dan sunnah sehingga mereka lebih menyukai berbagai aliran pemikiran dan ideologi orang2 kafir maupun zindiq dari timur dan barat bumi !

Lantas bagaimana dengan pandangan sebagian saudara-saudara kita mengenai adanya bidah hasanah, coba kita kembalikan lagi kepada Pengertian tentang bid’ah yang telah kita pelajari sebelumnya, Bidah secara syariat adalah suatu perkara (amalan) baru yang dibuat-buat (menyerupai ibadah) dengan menyelisihi Al Quran, As sunnah dan kesepakatan pendahulu umat (ijma) baik berupa perkara I tiqod (keyakinan) dan ibadah-ibadah

Serta banyak sekali hadist –hadist nabi lainnya yang melarang kita untuk berbuat bi’dah ini, dan semua lafadz sabda nabi tentang kesesatan bid’ah ialah Kullu bid’ah dhalalah (setiap bid’ah itu sesat), beliau menyadari apa yang diucapkannya, mengerti betul akan maknanya, dan ucapan ini timbul dari manusia yang paling fasih dan paling tulus terhadap umatnya, tidaklah apa-apa yang dapat mendekatkan atau memasukan bagi umatnya untuk ke surga pastilah telah beliau sampaikan dan tidaklah pula apa-apa yang dapat memasukan seseorang ke neraka pun telah beliau peringatkan!, Dan patutkah bagi kita untuk menekuk perkataan beliau dengan melanjutkan sabda beliau dengan pemikiran kita sendiri seperti ini : Nabi Bersabda Kullu bid’ah dhalalah (seluruh / setiap bid’ah itu sesat), kemudian sebagian kita mengatakan kecuali yang hasanah (bid’ah hasanah)…patutkah…!, samakah dengan permisalan lainnya Allah mengharamkan / melarang kita memakan daging babi, kemudian kita katakan kecuali daging babi hutan itu halal…Patutkah..!, atau Allah dan rosulnya mengharamkan / melarang kita minum khamar kemudian kita katakan kecuali Khamar yang terbuat dari anggur itu halal.., Patutkah…!

Lantas bagaimana nasib saudara-saudara kita yang masih melakukan bidah apakah sesat dan pasti masuk neraka sebagaimana mereka yang masih ikut marayakan bidahnya maulidan

Perlu diketahui bahwa Manhaj Ahlusunnah Wal Jama’ah tidak akan menetapkan sesuatu itu sesat atau kafir, ahli surga, ahli neraka kecuali yang telah ditetapkan dari Kitabullah dan sunnah..!, Ada keterangan yang memang telah ditetapkan secara rinci mengenai hal-hal sedemikian misal orang-orang yang akan menjadi ahli neraka seperti firaun, abu lahab dll yang telah dinyatakan sendiri oleh Allah dalam AlQur’an, demikian pula mengenai orang-orang menjadi ahli surga misalkan beberapa orang sahabat nabi yang dijamin masuk surga yang nama-namanya terdapat di hadist nabi termasuk disini antara lain abu bakar, Umar, Bilal dst, Maka ahlusunnah pun menetapkan dan mengimani apa adanya! namun ada juga keterangan masih bersifat mujmal atau umum misal sabda nabi soal kesesatan bid’ah dan ancaman bagi pelakunya akan sesat dan diancam api neraka nabi bersabda bahwa seluruh / setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di neraka. Maka kita katakan secara umum bahwa orang yang berbuat bid’ah itu sesat sebagaimana sabda nabi yang mulia shalallahi alaihi wasalam.

Namun perlu diketahui bahwa Manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah tidaklah sama ketika akan menghukumi suatu perbuatan / kelompok atau secara umum/ lafazh mutlak dengan ta’yin/pengecapan dengan menghukumi pelaku atau orang per orang secara rinci terutama pada hal-hal yang sangat vital seperti hal-hal yang berhubungan dengan pentakfiran / pembidahan / pemfasikan, maka tidak boleh bagi kita mengatakan si fulan kafir, si fulan ahli bid’ah, si fulan fasik dst, hal ini perlu kita ketahui bahwa menghukumi seseorang dengan kafir, fasiq bukanlah hak kita, tetapi kita kembalikan kepada Allah dan rosulnya sebab ini menyangkut hukum syar’I yang kembalinya adalah kepada Alqur’an dan assunnah dan wajib bagi kita untuk bertatsabbut (mencari kejelasan) dengan sebenar-benarnya. Maka tidaklah dikafirkan atau di fasiqkan atau dikatakan ahli bidah kecuali orang-orang yang ditunjukan kekufurannya atau kefasiqannya atau terbukti kebidahannya oleh kitabullah dan sunnah rosul.

Manhaj Ahlusunnah memandang pada dasarnya dhohir seorang muslim adalah adil dan tetap pada diri manusia hukum asal ini hingga terbukti dengan dali-dalil yang syar’I akan penetapan hukum terhadapnya. Dan hal-hal tersebut harus terpenuhi dahulu syarat-syaratnya untuk menetapkan demikian (tayin) dan telah hilang penghalang-penghalangnya (mawani) ! maka orang muslim yang melakukan perbuatan kafir atau mengucapkan kata-kata kufur atau malah mungkin memiliki keyakinan kufur sekalipun tidaklah lantas pelakunya dinyatakan kafir atau murtad, demikian orang yang melakukan suatu perbuatan fasik (dosa besar) tidak lah lantas pelakunya divonis fasik dan pasti masuk neraka sebagaimana mazdabnya para ahli bid’ah yang mudah mengkafirkan atau menyesatkan seseorang baik secara umum dan secara rinci bersamaan seperti kelompok khawarij yang dulu dan sekarang, demikian dengan orang yang berbuat bid’ah tidaklah lantas pelakunya disebut ahli bidah atau sesat!, karena jika setiap pelaku perbuatan langsung dihukumi dengan vonis (tayin) seperti itu tanpa melihat keadaan, pengetahuan, pemahamannya, maka mungkin saya katakan tidak ada manusia selain nabi yang selamat dari hal sedemikian termasuk kasus pada perkataan sebagian sahabat nabi (salah satunya Amar bin yasir ) yang dipaksa mengucapkan kata-kata kufur karena tidak tahan siksaan oleh para kafir quraish saat itu, maka hal inipun juga bisa menimpa para ulama atau imam-imam ahlusunnah yang karena ketergelincirannya dalam berijtihad kemudian berfatwa dengan sesuatu untuk menghalalkan yang haram atau sebaliknya atau mungkin beritiqod pada hal-hal yang menyelisihi sunnah atau melakukan amalan bid’ah dsb.

Namun karena kuatnya mereka berittiba kepada sunnah dan kesungguhan mereka untuk menjauh dari bid’ah maka kita harapkan ketergelinciran dan kesalahan-kesalahan mereka diampuni Allah! Karena mereka para ulama dan Imam ahlusunnah itu manusia biasa, tidak ma’sum dan tidak ada keterangan dari hadist nabi akan jaminan masuk syurga! entah itu untuk Imam Hanafi, Imam Syafe’I, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik atau ulama-ulama lain selain mereka.., lantas apalagi jaminan buat kita… (makanya dengan dasar inilah mengapa umat perlu dijauhkan dari kebiasaan taqlid dan didik mereka agar berittiba kepada rosul serta menuntut ilmu syar’I dengan pemahaman yang benar berdasarkan manhaj/metodologi salaf dalam beragama Islam ini)

maka termasuk adab bagi para penuntut ilmu syari untuk mendoakan mereka para Ulama dan Imam yang telah tiada dengan perkataan Fulan Rahimahullah (Semoga Allah Marahmatinya) dan bagi mereka yang masih hidup maka patut kita doakan Fulan Hafidzahullah (Semoga Allah menjaganya). Dijaga Ilmunya agar tidak tergelincir kedalam kebidahan atau mengikuti hawa nafsu dalam berfatwa serta penyimpangan2 lainnya (karena hati manusia itu selalu berada diantara dua jemarinya Allah dan bisa Dia bolak-balikan kapanpun Dia mau!) Perlu diketahui bahwa ketergelinciran seorang ulama itu amat fatal akibatnya karena biasanya dia bakal dijadikan hujjah oleh para pengikutnya bisa ribuan atau jutaan orang atau sejumlah lain yang Allah lebih mengetahuinya!!

Misal untuk ibadah maulidan tidaklah kita mendapati contoh yang nyata tentang amalan ini dilakukan oleh Rosul, sahabatnya, tabi’in, tabiut tabi’in, para Imam ulama Ahli hadist, Imam Buchori, Imam Muslim, Ibnu katsir, Ibnu Taimiyah serta dari Imam-imam madzab yang empat pun seperti Imam Hanifah, Imam Malik, Imam Syafei, Imam Ahmad bin hambal maupun ulama muhaqiqun dari madzab Syafei, mereka seperti Ibnu Hajar AlAsqolani, Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam As sha’ani (mana dari kitab-kitab mereka ada soal perayaan maulidan). Mereka Ulama sunnah dan ahli hadist terdahulu yang manjadi rujukan Imam-imam dan Ulama ahli hadist mutaakhirin (belakangan) kalo bukan bersandar pemahaman kepada orang-orang mukmin sebelum kita dalam memahami dien Islam ini yakni para salaf maka kemana lagi kita akan bersandar…?

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” (QS An Nisa 115)

Sedangkan untuk menghukumi orang perorang ini erat kaitannya dengan pengetahuan, pemahaman mereka tentang bidah itu sendiri jika diantara mereka, siapapun walaupun mungkin dia bukan dianggap ulama, kyai atau hanya orang biasa saja yang hadir disitu ikut merayakan bidah tersebut dalam keadaan lapang tanpa paksaan, sadar, sengaja dan telah Tegak hujjah kepadanya kemudian dia tahu dan dia paham maksud hujjah tersebut (karena orang yang tahu belum tentu paham) namun dia tetap berpaling untuk mengikuti tradisi dan taqlidnya bahkan berupaya mencari-cari dalil untuk mempertahankan bidahnya tersebut maka untuk orang tersebut bisa tervonis ahli bid’ah atau sesat dan menyesatkan, namun sebaliknya walaupun mungkin disitu dia dianggap sebagai seorang kyai atau ulama (yang mungkin menjadi besar karena diangkat-angkat saja oleh umat atau orang-orang disekitarnya atau punya jasa besar terhadap umat islam atau sebenarnya diapun hanya muqqolid juga) namun belum tegaknya hujah datang kepadanya bisa jadi dia tahu tapi belum paham maka belum bisa orang ini divonis orang ini sesat atau ahli bid’ah ..!

Perlu diketahui bahwa Dengan dasar hujjah yang nyata dari Alquran dan sunnah berdasar fahamnya para sahabatlah yang dijadikan hujjah menghukumi perbuatan manusia dan bukan lah perbuatan manusia yang dijadikan batu sandungan untuk menolak atau merombak hujjah, namun jadikan lah hujjah tersebut sebagai batu ujian buat mereka yakni orang-orang yang kita anggap sebagai ulama, ahli hadist, ahli fiqh tanyakan kepada mereka apakah perayaan maulid itu ada contoh dari rosul, para sahabatnya serta tabi’in dan tabiut thabi’in. Maka ketahuilah alangkah indahnya ucapan Abdullah bin mas’ud (seorang Ulama di zaman sahabat nabi shalallaah alaihi wasalam ) yang kita bisa menimbang amalan kita dengan muatan dalam ungkapannya

“Sekiranya amal perbuatan itu baik niscaya mereka para sahabat nabi sholallah alaihi wasalam pasti sudah mendahului dalam mengamalkannya”
Maka sekiranya amalan merayakan maulidan itu baik (amalan shaleh) niscaya para sahabat nabi sholallah alaihi wasalam lah yang lebih dahulu dalam merayakannya karena mereka yang paling kuat ittibanya, paling besar perasaan cintanya kepada nabi, paling alim tentang islam dan sunnah, paling besar taslimnya (rasa berserah dirinya kepada Allah) dan paling sedikit takalufnya (membebani diri) dalam syariat!
Firman Allah tentang kesempurnaan Islam :

Pada hari ini telah kusempernukan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu ni’matku dan telah kuridhai Islam itu jadi agamamu. (Surah Al Maa’idah:3)

Sebagai penutup maka saya sampaikan hadits nabi shalallah alaihi wasalam:
Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Azza wa jalla, taat dan mendengar sekalipun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja diantara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat persengketaan yang banyak maka (ketika itu) wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Gigitlah dengan gigi grahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara baru karena setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi)

Ciputat 31 Desember 2008

Irwin Ananta
(Abu Faris)

sumber refrensi: berbagai sumber

Iklan

14 Februari, 2009 - Posted by | Salah Persepsi Soal Bid’ah

2 Komentar »

  1. waah bolehlah argumen anda untuk hal yg berkaatan dg bid’ah tapi sayang kenyataannya mayoritas muslim masih saja menganggap bidah hasan layak untuk dikerjakan . tolong pk ustad dalil hadis bahasa arabnya ditampilkan agar lebih yakin jangan pake terjemahan saja terima kasih

    Komentar oleh sugirman | 12 Januari, 2010

  2. terimaksih telah memuat artikel ini…setelah aku baca aku semakin mndapat angin segar tentang pemahaman bid-ah yang sedang aku pelajari…dan di sni adalah salah satu tmpat yg saya singgahi dan say mnadapat sstu yg baru dalam pengakjian bid-ah secara luas….!!! artikel ini bijak dan lebih halus pemaparanya…

    Komentar oleh asy satrianiez | 30 Maret, 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: