MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET

MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET BERSAMA IRWIN ANANTA

Penjelasan menyoal syubhat posisi dan pnampakan dan ketidaknampakan bulan dlm konteks pnentuan awal puasa dan idul fitri

Tulisan ini dibuat untuk mnjwab sebgaian syubhat diantara teman2 FB dan saudara2 kaum muslimin mengenai klaim kebenaran jatuh waktu 1 ramadhan dan 1 syawal yang kerap suka berselisih di negeri yg kita cintai ini, klaim tsb diantaranya jika penetapan oleh pemerintah bersebrangan dgn pandangan klompok atau ormas yang di ikuti nya, baik pada kedudukan andaikata jika ijtihad pemerintah (ulil amri) itu salah atau jika masing2 pihak masih saling mengklaim benar atas pendapat nya dan sbagian diantaranya ada menggunakan indikator bulan purnama sbg tengah bulan utk menghitung mundur pembenaran akan pnetapan waktu awal masuk nya bulan baru

1. Penjelasan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Kaum Muslimin telah sepakat mengenai perkara ru’yah al-Hilal (melihat bulan) untuk penentuan puasa, lebaran, haji dll dari dahulu atau sudah merupakan ijma (ksepakatan) sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam jadi perkara sunnah dalam hal ini ialah dengan RU’YAH HILAL (melihat bulan) dan bukan dengan metode HISAB

sedikit tambahan catatan bahwa sebagian diantara saudara2 kita ada yg mencari pembenaran dengan mengajak melihat purnama pada sekitar pertengahan bulan (qamariyah) untuk membuktikan bhwa pnetapan tanggal 1 Syawal versi mereka lebih tepat daripada sbagian pihak laen yg mnetapkan berbeda ketika terjadi perbedaan penetapan tanggal awal masuk bulan (qamariyah), maka mlakukan pembenaran dgn mnetapkan purnama sbg indikator pda tengah bulan seperti ini tidak tepat dgn dua alasan. Pertama, tidak ada dalil syar’i (hukum agama) yang mendukungnya atau mungkin sy blom mengetahui nya dan Kedua, secara ilmiah astronomi metode tersebut tidak berdasar.

penentuan awal bulan qamariyah terkait dengan pelaksanaan ibadah semisal ibadah puasa, baik untuk mengawalinya maupun untuk mengakhirnya haruslah didasarkan pada dalil-dalil syar’i, baik dari Al-Quran mapun Hadits. Dalil syar’i,semuanya mensyaratkan adanya melihat hilal (bulan sabit pertama). Tidak ada satu pun dalil yang mengaitkannya dengan purnama.Secara ilmiah astronomi pun tidak ada dasarnya. Awal bulan mestinya didasarkan pada fenomena yang ada batas awalnya. Hilal ada batas awalnya, karena hari sebelumnya tidak tampak, kemudian tampak sebagai tanda awal bulan sedangkan Purnama sulit menentukan batas awalnya. Dari segi ketampakan, pnampakan bulan pada tanggal 14 dan 15 (bulan qamariyah) hampir sama bentuknya sama-sama bulat. Secara teoritik, rata-rata purnama terjadi pada

14,76 hari setelah ijtimak (bulan baru). Artinya, purnama bisa terlihat pada malam ke-14 atau ke-15, sehingga tidak memberikan kepastian ketika ditelusur mundur.

2. Sebetulnya jika seksama memahami dalil2 pnentuan ramadhan ato syawal ato beban syariat untuk ru’yah hilal (melihat bulan), maka perlu dipahami disini yg menjadi beban syariat (taklif) bagi kita ialah perintah “MELIHAT BULAN” nya dan bukan dibebankan oleh syariat bagi kita untuk memastikan posisi “WUJUD BULAN” nya dgn yg sudah semestinya harus nampak diterangkan dari hadist Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbuka (tidak berpuasa) karena melihatnya pula. Dan jika awan (mendung) menutupi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”. (HR. al-Bukhari, III/24; dan Muslim, III/24).

Perhatikan dalam kalimat “Dan jika awan (mendung) menutupi kalian,” dijelaskan di sini bahwa awan mendung bisa jadi menutupi penglihatan mata (ru’yah) terhadap bulan, maksud dibalik awan mendung bisa jadi secara hakekat sudah muncul WUJUD HILAL, namun Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bicara salah benar dari posisi wujud HILAL (bulan) yg bisa jadi sbnarnya sudah ada HILAL (bulan) dibalik awan mendung tersebut, namun beliau hanya memerintahkan beban syariat pada RU’YAH HILAL (melihat bulan) dan bukan memastikan HAKEKAT WUJUD HILAL, dan dari hadist ini pula keluar bantahan terhadap pengagum metode hisab (yg tanpa mesti melihat bulan asalkan sudah masuk secara perhitungan matematis astronmis maka dianggap hilal sudah semestinya ada atau muncul), dari hadist ini dipahami belum melihat hilal karena tertutup mendung dianggap belum masuk awal bulan baru padahal bisa jadi hilal atau bulan sudah ada namun tertutup awan mendung tsb.

3. Kewenangang penentuan awal ramadhan, awal syawal merupakan kewenangan ulil amri maka berdasar sejumlah dalil hadist jika melihat hilal sendirian maka yg diminta utk lapor ke ulim amri dan tidak memulai sendri puasa ato pun berbuka (lebaran), kesaksian bs diterima atau di tolak merupakan hak nya ulil amri, sekira nya di tolak maka wajib bagi siapaun yg

melihat hilal utk mencocokan dgn ijtihad nya ulil amri (karena penjelasan ulama soal melihat hilal ialah dimaksud pengelihatan hilal yg sudah tersiar atau terumumkan ke khalayak ramai oleh pemerintah thd rakyat), bukan penglihatan masing2 (meskipun mungkin mencocoki kebenaran)

4. Ijtihad ulil amri bisa benar bisa salah, jika benar dapat 2 dan jika salah dapat 1

5. Ulim amri yg nyeleneh mengumumkan awal puasa dan awal berbuka (lebaran) semisal tidak bersungguh sungguh dlm upaya melihat hilal atau menyengaja khianat terhadap tuntunan nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka menanggung dosa akibat putusan mereka thd rakyat nya dan bagi rakyat atau umat tidaklah mereka menanggung sedikit pun dari dosa kesalahan tersebut.

6 Maka bagi kaum muslimin wajib dipahami bahwa merupakan SUNNAH (merupakan pengamalan ajaran ISLAM) mengikuti keputusan ULIL AMRI dlm mslaah ini dan merupakan perkara baru yg tidak ada contoh sebelumnya dari sejarah kaum muslimin dan yg telah dicontohi oleh generasi terbaik umat, salafusholeh (para sahabat nabi dan 2 generasi stelahnya) dengan mengikuti ORMAS, maupun faksi2 apapun yg sngaja menyempal dalam keputusan ULIL AMRI

Semoga kita semua suka kembali kepada sunnah nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam…

Nb: jika ada hal2 yg kliru ato mnyelisi sunnah dri pnjelsan sy tsb diatas mhon berikan masukan pada sy, dlm konteks sbg pelajar dlm ilmu syar’i maka sy pun tak lepas dri kmungkinan khilaf, keliru dan salah.., poin pnjelsan tsb diatas di ambil dri sejumlah pnjelsan para ulama yg insyaAllah jika smpat akan sy lengkapi poin2 tsb di atas dgn fatwa2 ulama yg mendukung nya.

Iklan

5 Agustus, 2012 - Posted by | Penjelasan menyoal syubhat posisi dan pnampakan dan ketidaknampakan bulan dlm konteks pnentuan awal puasa dan idul fitri

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: