MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET

MEDIA KULIAH ONLINE VIA INTERNET BERSAMA IRWIN ANANTA

Biar palsu-palsu gini kan yang penting hadits…?!%&

Seorang alumni mahasiswi saya bercerita kepada saya ketika malam nisfu syaban, jika yang bersangkutan bermaksud mengingatkan seorang pengirim BC BBM berisi hadits palsu dengan mengirim balik BC BBM dari suatu group BBM suatu situs sunnah untuk mengcounter tentang kepalsuan hadits keutamaan seputar syaban tersebut, namun tanpa dinyana tanpa di duga si pengirim BC BBM hadits palsu tersebut malah balik menyerang dengan gusar dan menyatakan lewat pesan BBM  kepada alumni mahasiswi saya tersebut dengan  sesuatu hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan konteks hal yang ditegur, entah karena bermaksud mengalihkan perhatian atau kegusarannya sendiri karena memang hadits yang disebar memang tidak mencantumkan periwayat hadits hanya diakhir hadits saja tercantum “nabi Muhammad saw”, demikian kutipan dari BC BBM hadits palsu tersebut, kemudian si pengirim BC BBM  hadits palsu tersebut malah menuding dengan mengatakan lewat pesan bahwa alumni mahasiswi saya tersebut dituduh berkecimpung “..  dengan orang-orang ahli takfirin yang gampang mengkafirkan orang dan menhalalkan darah kaum muslimin..” demikian kurang lebih sekilas kutipan ungkapan bahasanya, lanjut lagi  ujung-ujungnya si pengirim BC BBM hadits palsu yang bersangkutan   malah baik menasehati “belajar dulu ..  sebelum menyampaikan pesan SARA, ..emang SALAHNYA dimana PESAN  KEBAIKAN itu?

Berikut hadits palsu yang dimaksud yang tersebar lewat BC maupun BBG “Barang siapa yg mengingatkan sesama tentang kedatangan bulan ini (syaban). Maka api neraka diharamkan baginya”

kalimat diatas adalah sebuah kedustaan besar yg disandarkan diatas namakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yg mana dikatakan sebagai sabda Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tapi tanpa perawi, tanpa derajat hadits. Dan jika tidak mau ikut masuk kedalam golongan para pendusta, maka jangan menyebar atau memforward bbm seperti itu atau berbohong yg mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Mungkin serangan balik dari penyebar hadits palsu yang dialami oleh alumni mahasiswi saya tersebut mewakili sejumlah cerita lainnya di negeri ini, dimana intinya mengapa orang begitu tenang dengan menyebarkan hadits dhoif bahkan palsu, yang kemudian jika dinasehati tentang kedhoifan atau kepalsuan hadits yang bersangkutan bukan berterima kasih atau setidaknya mencermati kembali “benar gak sih” hadits yang dipakai itu dhoif atau palsu, namun untuk kasus ini yang besangkutan malah menyerang balik dan “ending” perkataanya  “belajar dulu ..  sebelum menyampaikan pesan SARA, ..emang SALAHNYA dimana PESAN  KEBAIKAN itu?”

“..emang SALAHNYA dimana PESAN  KEBAIKAN itu?”

dari sini kita pahami mungkin yang bersangkutan mewakili sebagian masyarakat muslim negeri kita yang masih awam atau tidak tahu dalam menempatkan dan memposisikan hadits nabi ShallallahuAlaihi Wa Sallam sebagai sumber wahyu maka seolah apapun yang mengandung pesan kebaikan maka sah-sah saja jika dinisbatkan sebagai hadits tanpa mengkwatirkan ancaman maupu resikonya..!

Selain hadits palsu yang tersebut diatas adalagi hadits yang tidak ada asal usul yang cukup populer tersebar di bbm dan bbg
Doa Malaikat Jibril menjelang Nisfu Sya’ban : “Yaa ALLAH abaikanLah puasa umat Nabi Muhammad SAW, apabila sebelum Ramadhan dia belum:
1. Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup ..
2. Bermaafan antara suami-istri .
3. Bermaafan dengan keluarga, kerabat serta orang sekitar”.
Maka saat itu doa Malaikat Jibril diaminkan oleh Rasulullah sampai 3x, Amin..amin..amin..

ada hadits shahih yang agak-agak mirip dengan pola kisah dengan hadits tsb diatas namun lafazh aslinya tidak seperti itu dan maknanya pun berbeda jauh dengan yang tertulis diatas.

sebetulnya banyak lagi hadits-hadits lemah dan palsu seputar syaban dan nisfu syaban, silahkan cari sendiri disitus-situs islam terpercaya atau untuk mengetahui kumpulan hadits-hadits palsu dan dhoif bisa juga merujuk kepada kitab “Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahullah

Penyebar hadits dhoif dan palsu yang kemudian menisbatkan hadits tersebut kepada sabda Rasulullah ShallallahuAlaihi Wa Sallam maka ia termasuk  orang yang terancam dalam hadits ini, artinya:

Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3).

Para ulama melarang menggunakan hadits dhoif sebagai dalil terlebih lagi hadits palsu..

Kalaupun ada sebagian ulama yang membolehkan beramal dengan hadits dho’if di dalam fadho’il a’mal juga memberikan persyaratan ketat bagi hadits yang boleh diamalkan dalam hal tersebut. Syarat-syarat tersebut adalah: (1) Hendaknya hadits tersebut bukanlah hadits yang sangat dho’if/lemah, (2). Hendaknya hadits tersebut masuk di bawah hadits shohih (atau hasan, pen) yang umum, (3) Di dalam mengamalkannya tidak diyakini keshohihannya, (4) Hadits ini tidak boleh dipopulerkan.

maka sekiranya menyebar sesuatu yang berisi hadits dhoif sepatutnya pula mesti dijelaskan keadaanya serta tidak boleh di katakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda serta pula landasan kandungan isinya harus didukung oleh hadits lain yang shahih

Jika hadits tersebut tidak memiliki pendukung yang kuat dari hadits shahih, maka hadits tersebut juga tidak boleh diriwayatkan. Misalnya hadits yang memiliki pendukung dari hadits yang shahih: Kita meriwayatkan hadits tentang keutamaan shalat Jama’ah, namun haditsnya dhoif. Maka tidak mengapa menyebut hadits tersebut untuk memotivasi yang lain dalam shalat jama’ah karena saat itu tidak ada bahaya meriwayatkannya. Karena jika hadits tersebut dho’if, maka ia sudah memiliki penguat dari hadits shahih. Hanya saja hadits dho’if tersebut sebagai motivator. Namun yang jadi pegangan sebenarnya adalah hadits shahih.

Syarat-syarat di atas di dalam prakteknya sulit sekali diterapkan oleh kebanyakan kaum muslimin. Kebanyakan dari mereka tidak bisa memilah antara hadits dho’if dengan hadits yang dho’if jiddan (lemah sekali) dan antara hadits  yang di dalamnya memiliki landasan dari hadits yang shohih dengan yang tidak.

Oleh sebab itu yang lebih selamat ialah kita tidak menggunakan hadits dhoif sama sekali meskipun dalam fadho’il a’mal

nampaknya masyarakat kita yang  mudah menjadi gusar atau marah jika diingatkan bahwa hadits yang dipakainya itu dhoif atau palsu sudah terkena sindroma berbahaya dan nyeleneh maka kalau digambarkan dalam bentuk perkataan apa yang diperbuatnya itu maka jelaslah jika yang bersangkutan  baik sadar atau tidak sadar seolah mempunyai prinsip “biar dhoif-dhoif gini kan yang penting hadits atau biar palsu-palsu gini kan yang penting hadits”, hal ini menjadi nampak dengan  yang bersangkutan si pengirim hadits palsu tersebut mengakhiri ucapan BBM nya dengan mengatakan”..emang SALAHNYA dimana PESAN  KEBAIKAN itu?”

Dalil dan sebagian argumen dikutip dari:

http://muslim.or.id/hadits/hadits-dhoif-menjadi-sandaran-hukum.html

http://muslim.or.id/hadits/meninjau-penggunaan-hadits-dhoif-dalam-fadhilah-amal.html

Iklan

24 Juni, 2013 - Posted by | Biar palsu-palsu gini kan yang penting hadist...?!%&

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: